Karir: Ini Caranya Supaya Cuti Anda Tidak Pernah Ditolak Lagi

Kerja di bagian accounting (dalam perusahaan) atau jadi auditor di KAP, masalah per-CUTI-an tak jauh beda; sama-sama sulit. ‘Work-life-balance’? Lupakan. Jangakan jargon normative seperti itu, Undang-undang Ketenagakerjaan, yang mestinya bersifat memaksa-pun tak mempan. Terutama di KAP, yang namanya cuti itu hampir mustahil. Bagaimana caranya agar cuti tidak pernah ditolak lagi? 

Sebelum itu, ada hal unik dan menarik untuk dicermati sehubungan dengan per-cuti-an, khususnya di wilayah akuntansi dan keuangan, yaitu; pegawai accounting yang tidak cuti bukan karena tidak bisa, tetapi karena memang ogah. Aneh kan? Mengapa mereka ogah cuti?

 

Diantara begitu banyaknya pegawai yang menganggap “kata cuti hanya ada dalam dongen”—saking sulitnya mengambil cuti, malah ada orang yang justru ogah disuruh cuti. Inilah yang dialami oleh salah satu perusahaan klien saya (perusahaan menengah) beberapa tahun yang lalu. Apa menariknya?

Di bagian accounting dan keuangan, oleh FA Manager diatur sedemikian rupa sehingga setiap staff bisa cuti—tanpa terkecuali, minimal 12 hari dalam setahun—sesuai Undang-undang Ketenagakerjaan. Anehnya, ada seorang staf (Cash Accountant), single masih muda, cantik, naik Honda Jazz (model terbaru saat itu) dan selalu tidak mau mengambil cuti setiap kali gilirannya tiba—dengan alasan: “males di apartement sendiri.”

Sampai suatu ketika, salah satu anggota keluarganya meninggal—sehingga terpaksa dia tidak masuk kerja beberapa hari. Apa yang terajadi?

Hari itu, salah satu vendor minta payment. Ketika di periksa di ledger (oleh pegawai pengganti sementara), nampak sudah terbayar—lengkap dengan nomor checknya. Ketika bonggol check diperiksa, check juga sudah disobek (artinya sudah dikeluarkan).

Pegawai pengganti menelpon saya (yang baru menangani perusahaan tersebut sekitar 2 atau 3 bulan) untuk minta saran. Terpaksa saya datang ke perusahaan (klien) untuk melakukan cash-audit mendadak. Sebelum menelpon pegawai yang tidak masuk, saya meminta pegawai pengganti untuk print cash ledger untuk satu tahun, bonggol check dan cash recon.

Di awal pemeriksaan, semuanya nampak wajar. Bank recon selalu benar (saldo di rekening koran sama selalu sama dengan saldo di cash ledger, setelah di rekonsiliasi). Tetapi bukan itu yang saya cari.

Sejak saya diberitahu (via telpon) bahwa ada vendor yang sudah terbayar tapi minta pembayaran—saat cash accountant tidak masuk kerja, saya sudah melihat indikasi check lapping. Tujuan saya melakukan cash audit adalah untuk mengetahui, sudah sejak kapan dia (cash accountant) melakukan itu, berapa kali, kapan, berapa rupiahnya, dst.

Sehingga yang saya cari adalah check yang pencairannya melewati waktu yang wajar (maksimal satu minggu). Rata-rata penerima check segera mencairkan checknya, paling lambat satu minggu setelah diterima. Dari perbandingan tanggal check dikeluarkan (di bonggol check) dengan tanggal pencairan (di rekening koran), saya menemukan hampir setiap check bernilai di atas 20 juta, selalu menunjukan waktu pencairan yang lebih dari satu bulan—bahkan ada yang sampai 3-4 bulan.

Masuk kembali ke kantor, cash accountant langsung diperiksa dan akhirnya mengakui perbuatannya:sudah beberapa tahun melakukan ‘check-lapping tanpa ketahuan. Menjadi ketahuan ketika dia tidak masuk kerja beberapa hari. Ini sekaligus menjawab rasa penasaran rekan-rekannya yang sering bergosip tentang cash accountant, baru beberapa tahun bekerja sudah bisa beli mobil keren dan pindah ke apartemen.

Untuk anda yang saat ini (atau suatu saat nanti) menjadi chief accountant atau Financial Manager—yang memiliki wewenang mengenai cuti staf, terusiklah ketika ada staf yang nyaris tak pernah absent. Bukannya selalu menolak permintaan cuti, justru anda perlu menyuruh staf cuti, tentu sampai pada batas ketentuan yang berlaku di perusahaan.

Dengan mencutikan staf, mungkin anda menemukan ketidakwajaran yang tidak akan pernah terlihat jika mereka selalu masuk kerja. Tidak mesti check lapping, bisa jadi anda menemukan perlakuan akuntansi yang tidak konsisten atau masalah-masalah yang sengaja ditahan (tidak dilaporkan) karena alasan tertentu.

Itu jika anda seorang atasan. Jika kebetulan belum berada di posisi itu, mungkin anda berpikir….

 

Coba kita berpikir pelan-pelan: mengapa seorang atasan (manajer/partner) menolak permintaan cuti? Dari sini kita bisa memikirkan solusinya.

Alasan paling klasik, karena volume pekerjaan yang tidak seimbang dengan ketersediaan waktu (deadline)—sehingga jangankan cuti, untuk ke kamar mandipun rasanya nyaris-nyaris tak ada waktu. Alasan berikutnya, karena memang ada tipe atasan yang, entah mengapa, sepertinya selalu tidak rela jika ada staf yang ijin apalagi cuti berhari-hari. Yang kedua ini yang paling parah.

Volume pekerjaan yang besar bisa diatasi dengan time-management yang bagus (bikin rencana kerja—dengan urutan prioritas yang jelas, disiplin/konsisten dan konsekwen terhadap rencana yang telah dibuat). Pun demikian, sebagus-bagusnya time-management tetap saja, yang namanya pekerjaan tak akan pernah ada habisnya (kecuali perusahaan ditutup).

Kondisi itu, ditambah dengan karakter atasan (partner, chief accountant, managing partner, controller, CFO) yang sepertinya selalu tak rela melihat orang cuti—sehingga staf selalu merasa tidak enak setiap kali hendak cuti, maka lengkap sudah. Di akhir tahun, orang pada upload photo dari tempat wisata, akuntan dan auditor masih berkutat dengan berbagai data dan laporan.

Mengerikan ya jadi orang accounting?  Tidak. Untuk kawan-kawan yang masih kuliah, jangan karena cerita seperti itu saja lalu menjadi ciut-nyali. Jangan. Saya jamin keadaan anda nanti tidak akan separah itu, asalkan tahu caranya. Bagaimana caranya agar cuti anda tidak ditolak?

 

Dari alasan-alasan di atas, anda bisa berpikir tentang bagaimana caranya agar cuti tidak ditolak:

1. Jika Masalahnya adalah Pekerjaan

Bereskan pekerjaan sebelum cuti—pastikan tidak ada pending project/tasks. Pekerjaan datang terus-menerus? Sudah pasti. Tapi anda bisa memilah-milah mana yang harus selesai “NOW!” dan mana yang bisa ditunda tanpa menimbulkan masalah. Jangan bilang tidak ada. Masih tidak tahu yang mana?

Semua pekerjaan yang melibatkan orang lain (entah itu yang harus dikerjakan orang lain, atau yang menunggu data dari orang lain, atau yang menunggu konfirmasi dari orang lain), untuk sementara, bisa anda tinggalkan ketika “bola panas”-nya berada ditangan orang lain. Takut bolanya dikembalikan saat anda tidak ada? Jangan khawatir, mereka tidak akan menembak sasaran yang sedang tidak ada ditempat.

Jika punya clerk (data entry staff), anda bisa memintanya untuk take-over easy task yang anda yakin aman untuk dilimpahkan. Salah satu skill dalam bekerja adalah pintar mendelegasikan pekerjaan, tanpa menimbulkan masalah.

Timing, sangat penting dalam hal ini. Khususnya di Accounting (termasuk di KAP dan konsultan pajak), akhir bulan dan akhir tahun sudah pasti sangat sibuk. Tentu sangat tidak bijak jika anda cuti di saat pekerjaan berada dalam kondisi peak. Ini sudah menjadi risiko menjalani profesi di bidang akuntansi, keuangan, dan perpajakan. Tetapi bukan berarti tidak bisa cuti di saat low season. Instead of having vacation in the year-end, you have it before that. Malah bagus, anda bisa libur sebelum orang lain.

2. Jika Masalahnya adalah Manajer Yang Tidak Mengijinkan

Selama anda masih MINTA cuti, selama itu juga manager berhak untuk MEMBERI-atau-TIDAK MEMBERI anda cuti—on his/her discretion. Ya jelas, karena anda MINTA.

Jika anda ingin cuti tidak ditolak, berhenti MINTA cuti. Sebagai gantinya, anda AMBIL cuti. Cuti itu HAK anda (kecuali dicantumkan dikontrak anda memang tidak berhak untuk cuti).

Yang namanya mengambil hak, tidak perlu persetujuan (approval) siapapun. Keputusan untuk menggunakannya ada ditangan anda, bukan di tangan partner atau manager. Tentu, sebelum mengambil hak anda perlu memenuhi kewajiban terlebih dahulu (lihat masalah #1 di atas).

Konkretnya: anda hanya perlu mengirim email—beberapa hari menjelang cuti (sesuai aturan perusahaan/kantor) dengan isi kurang lebih sbb:

Dear Pak Andre,

Dengan ini saya bermaksud memberitahukan bahwa saya ambil cuti sejak tanggal 20 hingga 25 Mei 2012. Tugas dan pekerjaan telah saya atur sehingga tidak akan ada masalah.

Selama saya cuti, bisa dihubungi di no 08113 565252 (untuk hal-hal yang sifatnya mendesak). Mungkin saya sempat atau tidak sempat membuka email, tetapi hal nedesak bisa dikirimkan ke: lucy505@yahoo.co.id

Atas perhatiannya, saya ucapkan banyak terimakasih.

Bes regards,
Lucy Iskandar

Seperti terlihat di contoh, anda tidak sedang minta ijin atau approval, melainkan memberitahukan, sehingga TIDAK perlu mengikutsertakan kalimat basa-basi seperti “minta ijin.”

 

Saya sudah mengira. John Robert Wooden suatu ketika mengatakan:

Consider the rights of others before your own feelings, and the feelings of others before your own rights.

Sayangnya Mr. Wooden bukan atasan kita, bukan orang accounting (melainkan mantan pemain bola basket terkenal di tahun 60-an yang belakangan menjadi coach team basket UCLA).

Faktanya, manager yang menerapkan saran John Wooden adalah sosok yang langka di lingkungan bisnis. Bukannya tidak ada, tetapi sangat jarang ada. Yang banyak, justru staf-lah yang dituntut untuk melakukan hal itu—lebih menjaga kehormatan para manager ketimbang berpikir tentang hak mereka.

Tentu, sebagai bawahan kita tidak bisa menyalahkan atasan begitu saja—bagaimanapun, mereka juga dituntut untuk selalu siap menyediakan data keuangan sewaktu-waktu dan merampungkan project sesuai deadline.

Akan tetapi, sebagai atasan mestinya mereka bisa mengarahkan semua anggota team untuk menjalankan segala-sesuatunya dengan se-efektif mungkin, sehingga tidak perlu mempekerjakan staf lebih dari yang seharusnya.

Di mata saya, team yang selalu kekurangan waktu untuk menyelesaikan pekerjaan adalah team yang dipimpin oleh seseorang yang memiliki masalah berikut ini:

  • Tidak mampu mengelola waktu, pekerjaan, dan staf dengan baik
  • Tidak mampu mengukur rasio volume pekejaan dengan jumlah staf dengan tepat
  • Tidak mampu menterjemahkan kompetensi yang dibutuhkan (untuk menjalankan pekerjaan secara efektif) dengan kapabilitas dan kapasitas staf yang ada.

Jika kondisi ini mirip dengan kondisi dimana anda bekerja saat ini, anda mempunyai 2 pilihan (1) Tetap sabar, tingkatkan prestasi, sambil siap-siap menggantikan posisinya (cepat atau lambat atasan seperti ini pasti keluar dengan sendirinya); atau (2) Mungkin akan lebih baik jika anda mencari team yang lebih cocok (resign). Selamat berakhir pekan.

sumber : http://jurnalakuntansikeuangan.com/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s