Karir Akuntansi Keuangan: Kerja Di Perusahaan Besar atau Kecil?

Kuliah dengan jurusan Akuntansi memiliki kelebihan tersendiri; gampang cari kerja. Seingat saya, belum pernah menemukan Sarjana (atau D3) Akuntansi yang menganggur. Rata-rata sudah memperoleh pekerjaan hanya beberapa bulan setelah wisuda. Bahkan banyak yang sudah mendapat tawaran bekerja sebelum wisuda—biasanya di kantor di mana melakukan PKL.

D3 dan Sarjana Akuntansi yang saya maksudkan di sini, tentunya yang:

  • Benar-benar memahami Akuntansi dengan baik;
  • Serius mengikuti perkuliahan;
  • Mengerjakan tugas kuliah dengan usaha maksimal;
  • Mengerjakan dan menyelesaikan skripsi/TA sendiri.

Sedangkan mereka yang “sekedar kuliah dan sekedar lulus”, pastinya tidak memiliki peluang sebagus itu. Mengapa?

Karena ilmu akuntansi, antara teori dan terapannya tidak jauh berbeda. Jika saat kuliah belajar berbagai hal mengenai laporan keuangan, maka saat bekerjapun urusannya tak jauh-jauh dari laporan keuangan. Jika saat kuliah belajar menjurnal, saat bekerjapun urusannya tidak jauh-jauh dari jurnal. Bahkan sampai ke hal-hal kecil (misalnya: menghitung penyusutan/amortisasi, menghitung bunga, dlsb).

Nah, jika pada masa kuliah tidak serius mengikutinya, sudah pasti akan mengalami kesulitan saat bekerja. Jangankan saat bekerja, bahkan saat test lamaran pekerjaanpun mungkin sudah tidak lolos. Meskipun lolos, jika tidak cepat-cepat memperbaiki diri—mengejar ketertinggalan, maka karir tidak akan jauh-jauh dari posisi yang sifatnya clerical (tukang input data/data entry).

Sebaliknya, mereka yang selalu serius mengikuti perkuliahan, mengerjakan setiap tugas yang diberikan dengan usaha maksimal, sudah pasti bisa mengerjakan pekerjaan kantor dengan baik. Sehingga karirnya lancar. Jikapun ada kesulitan yang membuat tidak betah bekerja di suatu kantor, mencari posisi yang sama (atau bahkan lebih tinggi) di perusahaan lain, biasanya, juga relative mudah.

Tapi bukan berarti tidak ada tantangan samasekali. Jika yang dari jurusan lain kesulitan mencari pekerjaan, orang Akuntansi biasanya justru kesulitan memilih pekerjaan. Tidak bermaksud melebih-lebihkan, tapi memang itulah kenyataannya.

Adalah kenyataan juga bahwa urusan memilih tempat bekerja memang bukan sesuatu yang mudah. Idealnya, kalau bisa, tentu semua orang berharap memperoleh pekerjaan di suatu perusahaan atau organisasi yang:

  • Skalanya besar, bergedung besar dengan fasilitas wah, jumlah pegawainya banyak
  • Bonafide (terkenal, memiliki reputasi besar)
  • Menyediakan gaji, tunjangan dan bonus yang besar
  • Memiliki sistim pomosi jabatan dan jenjang karir yang jelas
  • Menggunakan sistim kerja yang sudah established dengan prosedur yang jelas
  • Pekerjaanya santai, tidak pernah lembur, gampang minta ijin, bisa cuti kapan saja
  • Dan seterusnya (silahkan tambahkan sendiri, anggap saja wishlist haha..)

Ya namanya juga berharap, tentu boleh-boleh saja. Pada kenyataannya?

Let me tell you the truth; a real business doesn’t work that way, but this way…

 

Kecuali modal dari hasil ‘ngemplang’ duit negara, semua perusahaan berawal dari perusahaan kecil yang kondisinya kurang-lebih sebagai berikut:

1. Kantornya kecil, ruko yang masih berstatus ngontrak – Yang namanya kantor kecil sudah pasti tempatnya juga sempit, mejanya kecil, dengan peralatan kerja seadanya. Artinya apa? Jika anda masuk ke sini: lingkungan kerja dan suasananya sudah pasti tidak cukup nyaman. Bisa jadi belum pasang AC sehingga anda harus menyeka keringat setiap 5 menit (atau perut kembung jika memakai kipas-angin). Orang yang mengutamakan kenyamanan tidak akan betah bekerja di tempat seperti ini.

2. Kondisi keuangan perusahaan belum stabil – Setiap saat anda dihantui oleh kekhawatiran akan kehabisan kas. Ada saja vendor yang marah-marah karena invoicenya belum dibayar. Sering dilemma untuk memilih antara menekan cost dengan menggenjot volume produk/jasa yang dihasilkan. Setiap menjelang akhir-bulan/awal-bulan selalu deg-degan, khawatir tidak ada cukup uang untuk bayar gaji pegawai. Dengan kondisi keuangan seperti ini, tidak mungkin perusahaan bisa memberikan gaji besar (apalagi tunjanga dan bonus).

3. Jumlah pegawai masih sedikit – Baru mulai operasi beberapa tahun yang lalu—dengan kondisi keuangan yang masih labil, perusahaan biasanya cenderung meminimalkan jumlah pegawai. Struktur organisasinya belum jelas, yang ada hanya direktur sekaligus pemilik usaha, istrinya, adiknya, dan beberapa orang staf saja, belum ada supervisor/kepala bagian/manager. Artinya apa? Jika anda bekerja di sini, anda harus siap merangkap berbagai macam pekerjaan—selain urusan accounting.

4. Sistim dan alur kerjanya masih belum jelas, cenderung amburadul – Namanya perusahaan baru, masih dalam perjalanan mencari bentuk. Belum menemukan sistim kerja yang paling optimal untuk menghasilkan profit yang diinginkan. Alur kerjanyapun belum jelas, cenderung amburadul. Sehingga jangan kaget jika anda sering menerima instruksi yang berubah-ubah. Misalnya: hari ini boleh memberi kas bon untuk pegawai, bulan depannya tidak boleh lagi. Boss yang laki bilang A, boss yang perempuan (istrinya) bilang B, untuk hal yang sama. Pembelian dan pengeluaran-pengeluaran lain dilakukan nyaris tanpa planning. Ini menjadi sumber kepusingan tersendiri—yang tidak banyak orang sanggup menanggungnya.

Sudah cukup horror? Jika mau ditambahi, masih ada lagi sisi tidak menariknya. Misalnya:

Saat ditanya “kerja di mana?” oleh kawan, keluarga (terlebih-lebih calon mertua). rasanya malu mau menyebutkan tempat kerjanya. Disebutkanpun belum tentu mereka tahu perusahaannya, yang ada mereka akan menunjukan response aneh seperti, “Ha? Dimana itu? Perusahaan apa itu? Koq belum pernah dengar ya..”. Nah, tidak enak kan? Hahaha….

Sekilas, nampaknya, lengkap sudah penderitaan orang yang bekerja di perusahaan kecil. Nah, apakah anda mau bekerja di perusahaan kecil dengan segala kesulitan itu?

Melanjutkan time-line bisnis yang sesungguhnya, sebagian perusahaan kecil seperti di atas mungkin jalan di tempat—sehingga berpuluh-puluh tahun tetap menjadi perusahaan kecil. Tak sedikit juga yang karena salah-kelola, akhirnya bangkrut dan lenyap dari peredaran. Dan sebagian kecilnya, ada juga yang berkembang menjadi perusahaan menengah. Bagaimana situasi di perusahaan menengah?

 

Perusahaan-perusahaan kecil yang dikelola dengan baik, memiliki pegawai yang handal, mau bekerja keras, menggunakan segenap daya dan upayanya untuk bisa beroperasi dengan efektif, bisa berkembang menjadi perusahaan menengah yang situasinya kurang-lebih seperti berikut:

1. Mulai memiliki gedung sendiri dengan ukuran yang cukup besar – Disamping ruangan kantornya yang sudah lumayan besar, juga sudah menggunakan AC. Sehingga, bisa dibilang sudah cukup nyaman, jauh lebih nyaman di bandingkan perusahaan kecil. Di sisi lainnya, gedung yang lebih besar dengan fasilitas yang makin lengkap mengkonsumsi sumberdaya yang juga lebih besar. Jika tidak terkelola dengan baik, bisa menjadi beban yang tak terkendali—sehingga overhead menjadi terlalu tinggi.

2. Kondisi keuangan mulai stabil – Jika kas dikelola dengan cukup prudent, perusahaan berskala menengah biasanya sudah tidak khawatir dengan likuiditas (ketersediaan kas). Jikapun kekurangan kas—karena terlalu aggressive dalam berinvestasi dan beroperasi, perusahaan menengah biasanya sudah memperoleh kepercayaan yang cukup dari lembaga pembiayaan. Sehingga kekurangan kas yang bersifat musiman relative bisa diatasi dengan cukup baik. Gajian? Hmm… not a problem. Lancar mah pokoknya. Di skala ini, perusahaan mulai mampu memberikan kompensasi (gaji, tunjangan dan bonus) yang cukup memadai bagi para pegawainya. Tentunya tergantung pada posisi dan prestasi masing-masing pegawai. Yang memperoleh gaji paling tinggi, sudah pasti para manager yang ikut merintis perusahaan sejak awal.

3. Jumlah pegawai meningkat – Melihat kondisi keuangan perusahaan yang mulai stabil, ditambah dengan kemampuan memperoleh pinjaman yang lebih tinggi, membuat perusahaan mulai berani berinvesasi dan beroperasi dengan lebih aggressive. Dan untuk menyokong itu, perusahaan bersakala menengah mulai menaikan jumlah pegawainya. Struktur organisasi sudah mulai terbentuk—dengan pemisahan wewenang dan tanggungjawab yang makin jelas. Perusahaan sudah mulai mengangkat beberapa manager bagian—termasuk di bagian accounting dan keuangan. Pekerjaan di bagian Accounting sendiri mulai dibagi-bagi untuk dikerjakan oleh staf yang berbeda-beda. Bagian keuangan bisa jadi juga sudah terbentuk (purchasing, shipping, warehousing), meskipun belum lengkap. Sehingga pekerjaan yang dirangkapkan sudah semakin berkurang. Tetapi belum memiliki sistim promosi jabatan yang pasti.

4. Sistim dan alur kerja mulai disusun – Semakin tingginya volume pekerjaan dan semakin tersedianya sumber daya manusia (SDM) yang memadai, perusahaan semakin menyadari pentingnya menerapkan sistim pengendalian intern. Meskipun belum lengkap, aktivitas-aktivitas utama perusahaan biasanya sudah memiliki standard operating procedure (SOP). Perusahaan tidak lagi asal jalan, tetapi sudah makin selektif dalam mengambil pekerjaan/pesanan/project/klien dan seterusnya. Untuk tujuan itu, perusahaan sudah mulai menggunaka analisa-analisa, forecast, planning, dan budget yang jelas. Fungsi akuntansi manajemen dan akuntansi keuangan sudah semakin dibutuhkan, Perpajakan mulai dijalankan dengan lebih tertib—entah itu menggunakan pegawainya sendiri atau konsultan.

Meskipun sudah jauh lebih baik jika dibandingkan dengan perusahaan-perusahaan kecil, tidak ada jaminan pasti tumbuh menjadi perusahaan besar. Dari beberapa kasus yang dialami oleh klien-klein saya, justru transisi dari skala menengah pindah ke skala besar ini yang paling sulit dilewati. Mengapa? Karena perusahaan berada di posisi tanggung:

  • Kondisi keuangan sudah cukup stabil tetapi tidak akan sanggup jika harus menggelontorkan uang ekstra-besar untuk berekspansi.
  • Kemampuan sumberdaya manusianya sudah lumayan baik, tetapi belum cukup untuk mengoperasikan persuahaan bersakala besar.
  • Sistem operasional dan sistem keuangan yang digunakan juga masih tanggung, tidak cukup untuk menjalankan perusahaan berskala besar.

Ujung-ujungnya, perusahaan berskala menengah dihadapkan pada 3 pilihan: (a) tetap menjadi perusahaan menengah; (b) mengakuisisi perusahaan lain; atau (c) diakuisisi oleh perusahaan besar sehingga menjadi bagian (anak) perusahaan besar.

Nah, bagaimana? Cukup lumayan kan jika bekerja di perusahaan menengah?

Setahu saya, jika ada kesempatan bekerja di perusahaan besar, pastinya orang akan memilih bekerja di perusahaan besar. Mengapa? Yuk kita pindah ke paragraph selanjutnya….

 

Di awal tulisan saya sudah ajak anda untuk bermimpi bekerja di perusahaan besar dengan lingkungan kerja dan fasilitas yang serba wah: ruangan kerja yang lega, AC-nya dingin, pakai dasi, nama perusahaannya terkenal dengan reputasi yang tinggi, iklannya nongol di TV setiap hari—sehingga cukup percaya diri jika ditanya tempat kerja, menggunakan sistim operasi dan sistim keuangan yang sudah sangat established—sehingga semua aktivitas berjalan sesuai prosedur yang telah ada (tidak perlu pusing-pusing).

Dengan kondisi seperti itu, siapa yang tidak ingin bekerja di perusahaan berskala besar? Jika ada peluang dan kesempatan, siapa yang tidak ingin menempuh jalan tol nan mulus? Begitulah persepsi umum—orang kebanyakan.

Sayangnya orang sukses dan berbahagia dengan karirnya, jumlahnya tidak banyak dan bukan orang kebanyakan. BUKAN orang-orang yang serta-merta berlari melintasi jalan tol bergabung dengan orang kebanyakan lainnya. MELAINKAN orang-orang yang memiliki perspesi sendiri, orang-orang yang memiliki nilai dan cara memandang yang berbeda, mampu melihat sisi baik dari sesuatu yang nampak buruk, mampu melihat sisi buruk dari sesuatu yang nampak baik. Dan, mampu menentukan pilihan dengan menggunakan pertimbangan-pertimbangan yang lebih comprehensive.

Kaitannya dengan perusahaan besar, adakah sisi buruk di balik penampilan gedungnya yang menjulang tinggi itu?

Saya bukan orang sukses, tetapi juga tidak menderita-menderita amat. Kebetulan saya pernah menghabiskan waktu bertahun-tahun di dalam ruang kantor yang sempit dan lega. Menurut saya, suatu perusahaan menjadi besar karena:

1. Bekerja keras, menjaga konsistensi mutu pada standar yang ekstra tinggi dengan delivery yang selalu tepat waktu – Jadi, apakah anda pikir bisa kerja santai di dalamnya? Apakah anda pikir tidak ada lembur di sana? Apakah anda pikir bisa bolos kerja atau ambil cuti dengan mudah? Think about that.

2. Beroperasi secara efektif dengan sistim pengendalian yang super-ketat – Jadi, apakah anda pikir baru masuk ke sana akan langsung dapat gaji besar? Yang saya tahu kebanyakan pegawainya berstatus kontrak/outsourcing bertahun-tahun.

3. Telah melalui masa operasi dan sejarah yang panjang (sudah ada begitu banyak orang yang berada di dalamnya dengan masa kerja yang mungkin rata-rata puluhan tahun) – Jadi, apakah anda pikir bisa masuk ke sana dengan mudah? Jikapun bisa, apakah anda sanggup berkompetisi ketat dengan orang-orang yang sudah ada di sana berpuluh-puluh tahun yang lalu?

Itulah tantangan sesungguhnya yang harus dihadapi jika anda ingin bekerja di suatu perusahaan atau organisasi besar dengan management yang sudah established—seperti bank dan perusahaan-perusahaan multi-nasional yang sudah go-public/Tbk.

Lalu siapa orang-orang gendut yang ada di perusahaan besar itu? Siapa orang-orang yang sangat disegani di dalam perusahaan besar itu? Siapa orang-orang yang menempati ruangan berukuran 10 x 10 meter sendirian itu? Siapa pula orang-orang yang nampak sederhana tetapi sangat disegani itu? Apakah saya tidak bisa seperti mereka?” Mungkin ada yang berpikir seperti itu.

Mereka adalah orang-orang pekerja keras yang berpuluh-puluh tahun yang lalu berkantor di ruko dengan bermandikan keringat, mau merangkap pekerjaan, tahan stress, mampu mengatasi rasa khawatir tidak bisa bayar gaji, bisa berpikir tajam dalam kondisi yang tidak nyaman, mampu membuat kondisi keuangan perusahaan menjadi stabil, mendapat kepercayaan untuk menyusun sistem operasi dan keuangan perusahaan yang amburadul menjadi teratur. BUKAN orang-orang berpikir instant yang belum apa-apa sudah mau kondisi yang nyaman.

 

Konon ‘work-hard’ sudah bukan jamannya lagi, dan sudah digantikan dengan ‘work-smart‘. Koq anda malah menganjurkan orang untuk kerja keras?” Mungkin ada yang berpikir seperti itu.

Dahulu, saya juga suka dengan jargon dan buzzwords seperti itu. Lama-lama saya mulai enggan. Mengenai kerja keras, saya ingin share satu cerita yang mungkin bermanfaat untuk pembaca.

Dalam artikelnya yang berjudul “The Top Five Regrets of the Dying”, Bronnie Ware (bekerja di sebuah rumah sakit yang khusu merawat orang-orang yang divonis akan segera meninggal (palliative care), di Australia sana), membeberkan hasil wawancaranya dengan para pasien yang sedang menjani hari-hari terakhir menjelang kematian.

Ketika ditanya mengenai apa yang mereka lakukan dan tidak lakukan—selama masa hidup—yang saat-saat terakhir menjadi suatu penyesalan, dari 5 jawaban yang paling sering dikemukan 2 diantaranya menyebutkan:

  • I wish I didn’t work so hard.”; dan
  • I wish I’d had the courage to live a life true to myself, not the life others expected of me.”

Di satu sisinya, mereka menyesali kerja keras yang telah mereka lakukan—di masa lalu. Di sisi lainnya, mereka juga menyesali hidup yang berjalan tidak seperti yang mereka inginkan. Mereka menyesal telah menghabiskan waktu untuk melakukan hal-hal yang tidak terlalu penting bagi kehidupannya.

Sesaat setelah membaca artikelnya Bronnie, pikiran saya melayang pada pemandangan lumrah di desa-desa nun jauh di sana—dimana para ibu dan bapak bekerja keras siang dan malam hanya sekedar untuk bisa menghidupi dan menyekolahkan anak-anak mereka, bahkan tidak mengenal akhir pekan seperti kita-kita yang ada di wilayah urban. Apakah menjelang kematian mereka nanti akan menyesali kerja keras yang telah mereka lakukan untuk menghidupi anak-anak mereka?

Saya pikir, bukan kerja kerasnya yang akan menjadi penyesalan, melainkan kerja keras untuk sesuatu yang tidak penting dalam hidup kita.

Bagi ibu-ibu dan bapak-bapak disana, kerja keras menghidupi dan menyekolahkan anak adalah sesuatu yang penting dalam hidup mereka. Saya yakin mereka tidak akan pernah menyesali kerja keras yang pernah mereka lakukan, sampai kapanpun, bahkan di saat-saat menjelang kematian mereka.

Bagaimana dengan anda? Mau merintis karir mulai dari perusahaan kecil yang membutuhkan kerja keras—dan menjadi salah satu dari orang yang jumlahnya sedikit itu? Atau memulai karir langsung di tempat nyaman—yang sesungguhnya tidak membawa anda kemana-mana, seperti orang kebanyakan? Anayway, ini akhir pekan. Jika bekerja di akhir pekan adalah sesuatu yang penting bagi hidup anda, silahkan. Jika berkumpul dengan keluarga adalah sesuatu yang lebih penting bagi anda, silahkan dinikmati. Di akhir tulisannya, Bronnie menyarankan: “Life is a choice. It is YOUR life. Choose consciously, choose wisely, choose honestly. Choose happiness.” Selamat berakhir pekan. 

sumber : http://jurnalakuntansikeuangan.com/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s